Atlantis

Atlantis, Atalantis, atau Atlantika (bahasa Yunani: Ἀτλαντὶς νῆσος, “pulau Atlas”) adalah pulau legendaris yang pertama kali disebut oleh Plato dalam buku Timaeus dan Critias.

Dalam catatannya, Plato menulis bahwa Atlantis terhampar “di seberang pilar-pilar Herkules“, dan memiliki angkatan laut yang menaklukkan Eropa Barat dan Afrika 9.000 tahun sebelum waktu Solon, atau sekitar tahun 9500 SM. Setelah gagal menyerang Yunani, Atlantis tenggelam ke dalam samudra “hanya dalam waktu satu hari satu malam”.

Baca lebih lanjut

Writer’s Block

Bising suara musik pengiring barongsai membuat Senin siang kali ini terasa lebih ramai. Alih-alih  terganggu, aku malah menikmati hingar-bingar tersebut dengan sepenuh hati. Flu berat akibat keletihan setelah liburan singkat kemarin mengharuskanku berkutat dengan sejumlah obat, selimut serta teh manis hangat. Terlepas dari pening yang semena-mena mengelilingi kepalaku sejak pagi, aku mulai menyadari bahwa aku hampir lupa rasanya bersantai seperti ini. Mereka bilang Uganyvia terlalu kaku sehingga tak pernah benar-benar menikmati masa mudanya sendiri.

Baca lebih lanjut

Teh Kemarin Pagi

Kemarin pagi, teh yang diseduh oleh rekanku dengan tangannya sendiri, dikerubungi semut. Sebab dirinya terlalu asik dengan hal-hal dari semesta yang berbeda. Rekanku lupa, sampai-sampai tehnya terbiar dingin di atas meja. Teh itu tak pernah beriak apalagi berteriak, melainkan diam dalam ruangan yang asing baginya. Memperhatikan rekanku dari jauh, sampai jarak tak berani mengeluh. Baca lebih lanjut

Memulai dari Mana?

Seseorang menyeduh secangkir  teh tepat pukul 11 malam. Tak ada yang bangun kala itu, selain dirinya dan mungkin katak di luar pagar. Dingin lantai dapur menahan kaki telanjangnya. Tubuh kurus itu duduk pada salah satu kursi meja makan. Kantung matanya cekung, sebab risau senantiasa menggantung di ujung, sewaktu-waktu membeku dan sesekali meleleh bersama air mata diluar kendalinya. Baca lebih lanjut

Cerita Seorang Teman

Jam di pergelangan tangan menunjukkan pukul tiga sore. Buru-buru aku keluar dari mobil putih, melangkah ke pintu kaca sebuah kedai kopi. Laki-laki itu tengah duduk sambil menatap, entah apa di luar jendela. Secangkir kopi di hadapannya terbiar dingin, merupakan sebuah tindak pelecehan pada minuman dewa tersebut. Ia paham betul perturan tak tertulis itu dan mengimaninya, jika saja bimbang tak hinggap saat ini. Namun, seisi semesta seolah memaklumi perbuatannya. Sebab, siapa yang tega mengusik jiwa gundah gulana.

Kisah ini bukan tentangku, melainkan sosok yang bersembunyi dalam dekapan sofa putih, kontras dengan kulit hitam manis, bukti bahwa darah Indonesia Timur mengalir kental pada denyut nadinya. Baca lebih lanjut

Semangkuk Laksa Buatan Ibu

Air menetes, dari genteng rumah dan ujung lancip rambutku. Adzan maghrib melantun, bersamaan dengan hujan deras. Dingin semakin menjadi setelah aku menyelesaikan mandi di tengah cuaca gila ini. Rambut sama basahnya dengan ingatan hari-hari lalu, entah tentang siapa, entah untuk apa. Telfon genggam masih terbiar mati di atas meja rias, sengaja tak kuhiraukan, sebab ruang untuk berfikir semakin hari kian sesak terasa. Baca lebih lanjut

Ada Apa Dengan Cinta 2, Ingatan dan Berdamai

Merupkan kelanjutan dari artikel sebelumnya.

Baru kemarin saya menulis tentang ketakutan untuk menyaksikan Ada Apa Dengan Cinta 2, namun pada akhirnya lunak oleh sebuah fakta bahwa mengingat adalah hal yang lumrah.

Singkat cerita, sore ini saya pergi ke sebuah bisokop. Saya putuskan untuk menonton film AADC 2 sendirian dikarenakan dua alasan; saya ingin waktu untuk ‘mengenal’ diri sendiri,  dan saya perlu menikmati Ada Apa Dengan Cinta 2 dengan cara saya sendiri tanpa campur tangan kanan dan kiri. Baca lebih lanjut