Ada Apa Dengan Cinta 2, Nostalgia dan Ketakutan

Malam ini, setelah membaca banyak review dan komentar orang-orang terhadap Ada Apa Dengan Cinta 2 membuat saya mendengarkan kembali lagu Bimbang. Jujur, saya sendiri belum sempat, atau mungkin belum mau, untuk menjadi bagian dari sequel film AADC tersebut. Mulanya, saya memang berencana menjadikan film ini sebagai sebuah perayaan setelah seminggu dikurung oleh jarum infus dan jam besuk. Namun niat itu saya urungkan. Beberapa pertimbangan, yang lebih tepat kita sebut sebagai ketakutan, membuat saya kurang bernyali untuk menyaksikan kelanjutan kisah Cinta dan Rangga ini. Saya tak akan mempertanyakan tentang ending dan jalan ceritanya, hanya saja ketakutan bahwa mungkin dalam film nanti saya akan menemukan potongan diri sendiri dan seseorang di masalalu. Saya hanya belum siap menerima efek dari film yang mereka juluki “pencipta nostalgia” ini.

Kembali ke tanggapan masyarakat terhadap film AADC 2. Tak sedikit yang menganalogikannya sebagai mesin waktu, menyebutnya sebagai obat rindu dan lain-lain. Bahkan beberapa dari mereka terinspirasi untuk mengabadikan sensasi yang tertinggal setelah film ini dalam sebuah karya. Singkat cerita setelah membaca tulisan-tulisan tersebut, saya tergugah untuk mendengarkan kembali lagu Bimbang.

Seperti sihir, petikan dawai gitar yang terdengar pertama kali, sukses menyentil saya jauh ke dasar hati. Tak perlu waktu lama, tepat setelah suara Melly Goeslaw mengalun saya pun meneteskan air mata. Entah apa alasannya, namun seluruh aspek yang berhubungan dengan film Ada Apa Dengan Cinta adalah tentang mengenang. Bukan jenis mengenang dimana masing-masing kita meratapi yang sudah-sudah. Hanya mengingat, tak lebih dari itu. berisitirahat dan berlalu, melanjutkan kehidupan bersama dia yang baru atau kembali dengan sosok dari masalalu.

Saya sadar, bahwa memang tak ada yang perlu ditakutkan dari AADC 2. Jika akhirnya saya menemukan diri sendiri atau mungkin ingatan tentang seseorang dalam film ini, merupakan hal yang lumrah, wajar dan biarkan saja seperti itu. Lalu saya pun bersedia menjadi bagian dari film ini dalam waktu dekat. Entahlah, setelah malam ini saya merasa rugi jika melewatkannya. Tentu dengan catatan, bahwa tak ada yang perlu ditakutkan dari mengenang, dan tak ada yang buruk dari nostalgia, hal tersebut wajar, biarkan saja mengalir hingga ke muaranya.

Iklan

One thought on “Ada Apa Dengan Cinta 2, Nostalgia dan Ketakutan

  1. Ping-balik: Ada Apa Dengan Cinta 2, Ingatan dan Berdamai | Sabrina, Uganyvia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: