Ada Apa Dengan Cinta 2, Ingatan dan Berdamai

Merupkan kelanjutan dari artikel sebelumnya.

Baru kemarin saya menulis tentang ketakutan untuk menyaksikan Ada Apa Dengan Cinta 2, namun pada akhirnya lunak oleh sebuah fakta bahwa mengingat adalah hal yang lumrah.

Singkat cerita, sore ini saya pergi ke sebuah bisokop. Saya putuskan untuk menonton film AADC 2 sendirian dikarenakan dua alasan; saya ingin waktu untuk ‘mengenal’ diri sendiri,  dan saya perlu menikmati Ada Apa Dengan Cinta 2 dengan cara saya sendiri tanpa campur tangan kanan dan kiri.

Pagi tadi, Senin tetap melakoni tugasnya sepert biasa, tak ada rencana apapun selain berkumpul dengan beberapa teman hingga tengah hari. Namun setelah mereka pulang ke rumah masing-masing, saya pun kembali merasa sepi, kamar sunyi, dunia tuli, dan di antaranya ada rasa yang meringkuk bersembunyi.

Sempat berfikir untuk sekedar jalan-jalan keluar rumah, atau duduk-duduk di kedai kopi. Namun, setelah membaca kembali tulisan saya tadi malam, dan keinginan untuk menjadi saksi dari kisah Cinta dan Rangga, akhirnya saya putuskan untuk segera berangkat menuju bioskop terdekat. Film bagus tentunya berakibat pada jumlah penonton yang  tak sedikit. Karenanya, bioskop  hari ini ramai sekali, mayoritas dipenuhi oleh muda-mudi yang mungkin memiliki tujuan serupa dengan saya.

Lalu setelah menonton, bagaimana tanggapan saya terhadap film AADC 2?

Sadis.

Beberapa orang yang saya temui sebelumnya berpendapat bahwa Ada Apa Dengan Cinta 2 tak sesuai ekspektasi, terlalu mudah di tebak dan minim konflik. Namun menurut saya, memang seharusnya AADC 2 di buat senyata ini. Mengingat bahwa film sebelumnya juga mengangkat topik yang sederhana, tentang kisah cinta dan persahabatan anak SMA, saya merasa cukup puas dan terobati oleh sequel ini.

Bagaimana tentang ketakutan yang saya bahas di artikel sebelumnya?

Tentu saja saya berhasil dilempar ke dalam lautan bernama nostalgia. Menemukan diri sendiri dan beberapa orang dalam karakter Cinta dan Rangga, di antara puisi, serta percakapan para tokoh di dalamnya. Namun setelah saya pahami sekali lagi, AADC 2 bukan hanya sekedar menawarkan kenangan kepada para penikmatnya. Film ini menyampaikan bahwa, tak ada salahnya memaafkan, memberi kesempatan kedua pada hati untuk di tata kembali. Bukan sebagai seorang yang lemah, melainkan karena hati kita masing-masing berhak untuk merasakan damai.

AADC 2 juga mengajarkan saya, untuk membuka telinga lebih lebar agar mendengar lebih banyak, tak buru-buru menghakimi suatu keadaan tanpa melihat alasan dibaliknya. Memahami bahwa hidup ini singkat, sehingga memilih untuk bahagia dan mengesampingkan ego adalah sebuah keharusan. Toh, hidup tak melulu soal kompetisi atau memperdebatkan siapa yang lebih dari siapa, bukan?

Pada akhirnya, hari ini saya berhasil mengalahkan satu ketakutan lagi dan memilih untuk berbahagia dalam tumpuk ingatan dan kemungkinan-kemungkinan di masa depan sebagai sebuah keharusan.

Terimakasih telah menyempatkan diri untuk mampir dan membaca tulisan ini.

Salam,

 

Uganyvia Sabrina

Iklan

4 thoughts on “Ada Apa Dengan Cinta 2, Ingatan dan Berdamai

  1. Ah, Uga. Lagi-lagi kamu berhasil menggugah perasaanku dengan tulisanmu. 🙂
    Ngomong-ngomong, artikel ini mengingatkan saya akan materi ulasan film yang baru saja sedang kami pelajari di sekolah. Dan artikel ini bisa menjadi contoh! 😀
    Tetap menulis, Uga 🙂

    • Hallo Limya, senang sekali jika kamu suka dengan tulisan saya. Terimakasih sudah menyempatkan mampir, terimakasih juga dukungannya ya. Sukses selalu! 😊

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: