Semangkuk Laksa Buatan Ibu

Air menetes, dari genteng rumah dan ujung lancip rambutku. Adzan maghrib melantun, bersamaan dengan hujan deras. Dingin semakin menjadi setelah aku menyelesaikan mandi di tengah cuaca gila ini. Rambut sama basahnya dengan ingatan hari-hari lalu, entah tentang siapa, entah untuk apa. Telfon genggam masih terbiar mati di atas meja rias, sengaja tak kuhiraukan, sebab ruang untuk berfikir semakin hari kian sesak terasa.

Di luar jendela, balkon basah berkolaborasi dengan cahaya biru redup, senja tengah mendung. Pelan kudengar pintu kamar dibuka. Ibu muncul dengan nampan di tangannya. Aku melihat ke dalam, segelas air putih dan tentu saja botol berisi tablet-tablet. Namun, wanita paruh baya itu turut membawa sesuatu. Tak seperti biasa,  kali ini makan malamku adalah semangkuk laksa. Mie kuah sagu sederhana, sarat akan rasa pedas, santan, serta aroma samar daun jeruk bersembunyi di sela-sela wangi kari.

“Ayo cepat dimakan, nanti dingin,” ucap Ibu. Aku memandangi nampan itu. Setelah sekian lama berkutat dengan kangkung dan tahu rebus, akhirnya semesta mengidzinkanku untuk menjadi bagian dari semangkuk laksa lagi. Lamban, aku mengaduk sumpit searah jam dinding, hening. Seolah ritual kita pada malam-malam lalu tak lebih sakral dibanding menatap asap mengepul dari mangkuk keramik, seolah kecup bibirmu dulu tak lebih syahdu ketimbang laksa buatan Ibu.

Kamar gelap, musim hujan, serta suara dalam pikiran yang sedari tadi bicara. Mereka mengaku pada seisi jagad raya, bahwa betapa terhormatnya menjadi saksi keajaiban yang hadir dalam peradaban manusia. Keajaiban lewat semangkuk mie sagu merah kental, resep turun temurun dan mendarah daging dalam denyut nadi Ibu. Detak jantung yang terdengar di dadamu? Tentu bukan sesuatu yang patut kurindu, sama sekali tak ajaib, hanya ingatan hampa dan tertinggal jauh di masa lalu. Nikmat menahanku agar tetap hidup demi menghirup kuah kaldu, sebab kedatanganmu bukan lagi yang kutunggu-tunggu.

Ribut suara hujan di luar sana, sedang aku tengah tenggelam dalam nikmat dunia tanpamu. Bagiku, semesta berpusat di situ, kamar gelap yang dulu dingin setelah pergimu. Kini hangatnya digantikan oleh semangkuk laksa buatan Ibu, bukan keinginanku untuk merasakan (lagi) pelukmu.

Iklan

4 thoughts on “Semangkuk Laksa Buatan Ibu

  1. Jadi, semangkuk laksa bisa mengganti rindu yang lalu? apa sama halnya dengan mi kuah kari? atau makanan khas lainnya? Saya ragu. Rindu ini bahkan tidak bisa di ukir melalui kata. Apalagi rasa.

    • Percayalah dik Sheila, laksa dan segala macam yang hangat di tengah musim hujan, fungsinya hanya sebatas pengalihan perhatian (dari rindu). Agar (terkesan) kuat.

  2. Kalau bicara tentang (berpura-pura) kuat, saya faham. Lebih dari sekedar faham. Seperti sudah ahli, ya, begitulah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: