Ayo Peduli

Belakangan, kasus kejahatan seksual, terutama pada perempuan dan anak di bawah umur, bermunculan di berbagai media. Pertama kali dalam tulisan ini, saya ingin menyampaikan keluh kesah sebagai seorang manusia.

Miris, satu kata yang dapat menggambarkan perasaan saya. Bahwa kenyataannya, kekerasan seksual memang tidak pernah lepas dalam kehidupan masyarakat, tak akan surut dari perbincangan, dan kita semua punya bagian dalam hal ini. Lingkungan kita terkesan membiarkan kekerasan seksual terjadi dalam bentuk kecil, bahkan memaklumi, sehingga membawanya ke level yang lebih ekstrim. Tidak, saya tidak membenarkan statement tentang perempuan dan pakaian terbuka dapat mengundang niat jahat dari lawan jenis. Menurut saya pola pikir semacam itu bodoh, terkesan play victim. Dengan kata lain, persepsi tersebut menyatakan bahwa dalam keadaan normal, kaum lelaki adalah makhluk yang tidak mampu mengendalikan nafsunya, sehingga harus ada tindakan preventif agar mereka tidak memperkosa. Padahal, kaum Adam pun acap kali menjadi korban kekerasan seksual.

Seperti yang pernah saya dengar disebuah talk show, pendidikan seks dan toilet training sejak dini itu perlu diterapkan sebagai tindak pencegahan. Namun, yang terjadi justru sebaliknya, edukasi seks dianggap tabu dan orang tua masih mempercayakan tanggungjawab seperti memandikan anak, dilakukan oleh pengasuh atau orang lain. Sehingga hal ini menciptakan celah kepada pelaku untuk melakukan perbuatan yang tidak diinginkan. Padahal, menurut saya, kita perlu memberi pemahaman kepada anak tentang perlakuan macam apa yang aman dan tidak untuk mereka terima.

Saya memang bukan seorang pakar, namun saya merasa punya hak untuk mengamati dan berbicara akan hal ini. Bukan hanya sebagai seorang wanita, namun atas nama kemanusiaan. Seperti yang saya utarakan di atas, masyarakat cenderung membiarkan. Contoh, kekerasan seksual yang terjadi di pasangan suami-istri, atau pelecehan pada korban laki-laki dengan pelaku wanita, malah tidak terlalu dipedulikan. Seolah hal tersebut tidak menimbulkan efek traumatis yang sama parahnya. Perlu kita pahami bahwa kejahatan seksual TIDAK mengenal siapa korbannya, begitupun pelakunya. Mereka bisa berasal dari kalangan manapun dan terjadi pada siapapun.

Contoh lain yang kerap kali saya temui, bahkan pernah saya alami sendiri, adalah diganggu oleh sekumpulan laki-laki di tempat umum. Entah dipanggil menggunakan bahasa tidak sopan, dipandangi dengan tatapan yang kurang menyenangkan, atau kontak fisik tanpa izin seperti jawilan pada lengan oleh orang tak dikenal. Sering kali saat situasi di atas terjadi, saya menggunakan pakaian longgar dan tertutup, bahkan seorang teman yang mengenakan jilbab pun pernah mendapat perlakuan yang sama kurangajarnya. Ironis memang, namun hal ini malah dibiarkan, bahkan disepelekan oleh banyak orang. Padahal, dari kejadian-kejadian semacam itu, saya pribadi jadi merasa tidak aman dan agak takut jika harus berjalan sendirian di tempat umum. Merugikan bukan?

Singkatnya, saya ingin menyampaikan, bahwa korban kekerasan seksual tak hanya dialami perempuan, namun juga pada laki-laki. Dapat juga terjadi diantara hubungan suami-istri yang sah dengan pemaksaan untuk melakukan kontak fisik. Tak hanya dalam bentuk sentuhan pada organ genital, namun juga berupa lisan dan perbuatan tidak menyenangkan lainnya. Hal ini kembali pada kesadaran masing-masing individu. Menghargai hak sebagai sesama manusia untuk merasa aman, serta lebih peduli dan memahami fenomena-fenomena di sekitar. Sekali lagi, sexual abuse terjadi bukan karena siapa, bukan pula karena pakaian provokatif, dan tak peduli besar/kecil bentuk pelecehannya. Namun karena dipupuk, dibiarkan tumbuh subur, serta diberikan kesempatan. Buka mata jangan biarkan diri ini buta, mulai mendengar dan menolak tuli. Ayo peduli.

Terimakasih telah menyempatkan diri mampir dan membaca tulisan ini.

Salam,

 

 

Uganyvia Sabrina

 

Iklan

2 thoughts on “Ayo Peduli

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: