Cerita Seorang Teman

Jam di pergelangan tangan menunjukkan pukul tiga sore. Buru-buru aku keluar dari mobil putih, melangkah ke pintu kaca sebuah kedai kopi. Laki-laki itu tengah duduk sambil menatap, entah apa di luar jendela. Secangkir kopi di hadapannya terbiar dingin, merupakan sebuah tindak pelecehan pada minuman dewa tersebut. Ia paham betul perturan tak tertulis itu dan mengimaninya, jika saja bimbang tak hinggap saat ini. Namun, seisi semesta seolah memaklumi perbuatannya. Sebab, siapa yang tega mengusik jiwa gundah gulana.

Kisah ini bukan tentangku, melainkan sosok yang bersembunyi dalam dekapan sofa putih, kontras dengan kulit hitam manis, bukti bahwa darah Indonesia Timur mengalir kental pada denyut nadinya. Tempo hari ia hampir mati, sebab sering kali menjadi dalang dari banyak keributan di kota kecil ini. Tak ayal, banyak orang dengki yang siap rugi demi melihatnya terluka, setidaknya patah kaki.

Mungkin sekumpulan manusia itu rela bertukar tempat denganku. Sebab lelaki begundal ini sedang menderita, tanpa repot membuatnya patah kaki,  melainkan patah hati. Pikirannya malayang jauh menuju kilatan penuh kenangan tempo hari. Perempuan anggun, berkacamata, dengan jilbab, dan sialnya ia cintai. Dapat dipastikan ini bukan sekedar obsesi, hatinya tulus di hadapan gadis itu. Senyum yang ia ingat sesaat sebelum terlelap, seolah terasa tepat berada di sana, di sudut hatinya.

Namun ia bukan seorang munafik apalagi naif. Perempuan itu adalah tipikal pendamping hidup idaman hampir seluruh kaum lelaki di sana. Gadis sholeha, berasal dari keluarga muslim baik-baik dan santun budinya. Berbanding terbalik dengan pria ini, seorang penganut Protestan yang bahkan jauh dari kata taat, dengan pola hidup semberaut. Bersahabat karib dengan batang-batang rokok dan minuman keras. Jujur, ia tak pernah mempermasalahkan jurang perbedaan di antara mereka, ayah dan ibunya adalah bukti nyata dan mampu bertahan hingga sekarang. Terlepas dari diperbolehkan atau tidak, ia tak pernah ambil pusing.

Hanya saja, prinsip dalam keluarga gadis itu sama sekali berlawanan dengan miliknya. Bagian paling menyiksa sekaligus menyenangkan adalah, rasanya tak bertepuk sebelah tangan. Gadis itu juga mencintainya. Sangat, bahkan secara sukarela menutup-nutupi identitas sang lelaki di hadapan keluarga besar, demi mengharap restu. Dia paham betul tentang reputasinya sebagai pembuat onar oleh seantero kota, namun pria itu bukan seorang pembohong. Berada dalam situasi ini adalah hal sinting, paling sinting meskipun di luar pengaruh minuman beralkohol.

Aku duduk perlahan, menepikan lintingan ganja di meja. Sepertinya lelaki rapuh di hadapanku tak buru-buru melabuhkan penat di sana. Asbak kosong, kemeja kusut, jiwanya kacau, dan tanpa dijelaskan, cekungan air di aspal pun paham ia tak baik-baik saja.

“Aku tak menyangka. Cinta menjatuhkanku sekeras ini,” katanya sembari menatap lurus ke arahku. Mata itu sarat akan kesedihan. Kumis berserakan, menjauhkan sosok dihadapanku dari kesan garang yang senantiasa melekat di punggungnya. Cinta menjatuhkannya, memukulnya, menendangnya tepat di ulu hati. Hingga babak belur, pikiran melantur, ditambah lagi semesta tak mengizinkan orang-orang patah hati untuk tidur.

“Bahkan tanpa basa-basi? Ayolah, yang benar saja. Setelah sekian lama tak bertemu temanmu ini?” Aku menyahutinya. Lalu, “Kau tahu bagaimana keadaanku,” lelaki itu membenamkan wajahnya di bantal. “Kacau,” ucapku tegas.

Ia mengeram, seolah ada sakit yang tak sudi dilepaskan dan tinggal dalam dadanya semata-mata untuk menyiksa.

“Kau harus berbicara dengan keluarganya. Tentang kebenaran yang tak dapat kalian pungkiri,” ucapku sambil membolak-balik menu. “Mudah untukmu bilang begitu, aku mencintainya. Mengatakan hal ini dan menghadapi kemungkinan terburuk adalah ketakutan terbesarku. Membayangkannya saja aku tak sanggup.” Aku meletakkan menu, memanggil pramusaji, lalu memesan dua cangkir coklat panas.

“Temanmu sedang dalam kesusahan, dan kau menikmati coklat panas? Dua cangkir?” pertanyaan dari mulutnya hanya dijawab oleh sunyi. Lagi, lelaki itu mengumpat, menyumpah serapah, mengeluarkan semua kata-kata sampah. Menurutnya nasib memperlakukannya semena-mena. Ia percaya eksistensi Tuhan, dimanapun yang diri-Nya mau. Pura, Gereja, Masjid, Vihara, dimana saja. Lelaki itu paham. Namun, apa yang telah digariskan Tuhan menurutnya kurang adil, terlalu berat. Seolah ia tak pantas hidup sebahagia orang lain dan tak mampu berhenti menjadi satu-satunya yang merana.

Entah kenapa, hujan selalu turun di saat seperti ini. Seolah deras suaranya mampu membungkam lara. Pramusaji mendekat dengan nampan berisi dua cangkir coklat.

“Minum,” kataku sembari menyodorkan cangkir ke hadapannya. “Aku tidak bercanda,” ucap lelaki itu angkuh. “Kau tahu, aku pun juga. Sudahlah, letakkan ego di dalam saku, jangan gantungkan pada bahu. Situasi ini sudah cukup pahit tanpa segelas kopi.” Akhirnya, pria itu menarik cangkir coklat ke dalam genggamannya. Seolah menerawang, sisi mana yang akan mendatangkan nasib baik jika diminum.

Ia kembali menyenderkan bahu di sofa, “perempuan ini membuatku jadi lebih baik. Bahkan aku tak lagi punya alasan bagus untuk pergi dalam pelukan benda-benda haram itu lagi,” ucapnya sambil menatap entah kemana. “Lalu lintingan ini?” tanyaku menyelidik. “Hanya untuk jaga-jaga.”

“Kau tahu, perempuan seperti dirinya layak untuk diperjuangkan,” ucapku mengeluarkan rokok dan sebuah mancis elektrik dari dalam tas. Membakar ujungnya, membiarkan zat adiktif bersemayam dalam paru-paru, lalu menghembuskan asap ke langit-langit ruang bertanda smoking area itu. “Tak biasanya orang memadukan rokok dan coklat panas. Memang, akan lebih pas jika benda ini bersanding dengan secangkir kopi. Namun bukan berarti mustahil. Iya ‘kan? Jika akhirnya memang tidak layak untuk ditempatkan dalam situasi yang sama. Setidaknya aku pernah mencoba, tanpa perlu dihantui tanda tanya, tentang bagaimana rasanya. Tapi ternyata, ini sama sekali tak buruk, setidaknya untukku.”

Lelaki berparas timur itu menatapku lekat-lekat. Seolah menanti apalagi yang akan kukatakan. “Menurutku, kalian  tetap harus mengatakan fakta tentangmu di hadapan orang tuanya. Berjuang sampai sejauh yang kau bisa, dan menerima segala konsekuensinya. Seperti yang kubilang, perempuan macam itu perlu kau perjuangkan. Setidaknya jangan biarkan dirimu terjebak pada wanita seperti aku, yang tak sudi menyelamatkan kekasihnya dari jerat siksa dunia, apalagi akhirat,

“lagi pun, hidup ini terlalu singkat. Kita akan terus menua, dunia tetap berputar, dan sebentar lagi ditinggalkan zaman. Jangan biarkan jiwa-jiwa ini mati merana, patah hati bukan akhir dari segalanya.”

Dia kembali menggenggam cangkir. Menimbang-nimbang perkataanku barusan. “Tapi, aku berjanji akan meminangnya setelah menjadi seorang pelayar nanti, menemuinya entah dimana ia akan melanjutkan studi. Aku tak mau ingkar janji.” Aku mengangguk, mematikan bara api di ujung rokok yang mulai pendek. Membenarkan posisi dudukku, sambil menatap matanya lekat-lekat, “apa sulitnya mencoba? Menghilangkan batas ragu yang kau ciptakan sendiri? Persiapkan diri untuk semua konsekuensinya nanti. Dunia tak sekeji itu, kalian pasti mampu.”

Lelaki itu seolah terbangun, sadar bahwa selama ini ia buta oleh rasa takut yang dipupuk sendiri. Aku menyeretnya keluar untuk segera pergi, bertaruh pada nasib baik meski dengan kemungkinan kecil. Setidaknya temanku itu akan mencoba, menaklukan titik terjauh dari rasa takut, entah apapun hasilnya nanti, ia berjanji akan bahagia demi memperjuangkan gadisnya.

Iklan

4 thoughts on “Cerita Seorang Teman

  1. Jadi, siapa seorang teman yang bermimpi menjadi seorang pelayar? Titipkan salam untuknya, katakan padanya. Hidup terlalu rumit kalau dia hanya duduk menanti keajaiban. Berdiri dan Berlari. Kejar apa yang menurutnya harus dikejar. Jangan menunggu, kita tidak tahu Tuhan memberi derita apalagi besok? selesaikan derita hariini sebelum derita esok datang dan membuat jarak antar bahu dan tanah menjadi kian dekat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: