Memulai dari Mana?

Seseorang menyeduh secangkir  teh tepat pukul 11 malam. Tak ada yang bangun kala itu, selain dirinya dan mungkin katak di luar pagar. Dingin lantai dapur menahan kaki telanjangnya. Tubuh kurus itu duduk pada salah satu kursi meja makan. Kantung matanya cekung, sebab risau senantiasa menggantung di ujung, sewaktu-waktu membeku dan sesekali meleleh bersama air mata diluar kendalinya.

Bertahun-tahun hidup, ia memilih diam dan menyaksikan ketidakadilan menari di depan mata. Selama bertahun-tahun pula, hatinya teriris. Meski begitu, ia tak mampu membuka mulut cantiknya untuk sekedar bersuara atau menjerit. Hampir seluruh umat manusia paham, penindasan dan ketidakadilan sudah terlalu lama dibiarkan. Seolah hal itu adalah sesuatu yang wajar, dan memang sepatutnya tak pernah sudah dibahas, apalagi selesai dengan solusi. Maka seperti jutaan manusia yang baru bangun di luar sana, ia tak mengerti harus mulai melawan dari mana.

Hanya seperti menghitung hari, satu per satu temannya mati. Bukan secara fisik, namun jiwa. Mereka seolah menolak bertahan dan hidup lebih lama lagi. Seperti orang-orang yang ditemuinya di kedai kopi sambil menangis sendiri, atau ketika salah satu sahabatnya berdiri di depan pintu rumah, dalam keadaan kacau dan basah kuyup. Hari itu, bukan hanya hujan lebat yang bernafsu untuk mengguyur, tudingan yang dilekatkan masyarakat pun ikut menenggelamkannya.

Mereka adalah korban dari makhluk buas bernama ego. Secara alami hidup dalam tubuh manusia, dibesarkan dan dibiarkan mendominasi. Atas nama ego, tanpa sadar, manusia mendewakan banyak hal. Demi kepentingan yang dipenting-pentingkannya sendiri. Tak akan kau sadari keberadaan makhluk itu, sebab ia terselubung dibalik jubah putih bernama kebaikan yang palsu. Tak akan kau temukan makhluk itu, kecuali diantara pemakluman-pemakluman yang penuh omong kosong sarat akan kabar-kabar bohong.

Orang itu masih terjaga hingga malam menyentuh pagi. Hanya sepi dan dingin dapur, yang menemani saat begini. Kaki-kaki indah miliknya, bergerak risau di bawah meja. Pikirannya melayang, entah kemana. Tanpa dapat dicegah, perasaan bersalah mengerubungi, bagai semut pada nasi. Menurutnya, ia pun telah ikut memberi makan keegoisan, dengan membiarkan makhluk itu membunuh nurani.

Sayang, hingga engkau membaca tulisan ini, dunia masih didominasi oleh ego dan ambisi. Masih berbicara, katanya, demi kebaikkan, entah kebaikkan yang mana.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: