Teh Kemarin Pagi

Kemarin pagi, teh yang diseduh oleh rekanku dengan tangannya sendiri, dikerubungi semut. Sebab dirinya terlalu asik dengan hal-hal dari semesta yang berbeda. Rekanku lupa, sampai-sampai tehnya terbiar dingin di atas meja. Teh itu tak pernah beriak apalagi berteriak, melainkan diam dalam ruangan yang asing baginya. Memperhatikan rekanku dari jauh, sampai jarak tak berani mengeluh.

Teh hening, dengan permukaan tenang ketika dikenang. Dibiarkan semut-semut itu mati tenggelam dalam pesona manisnya.

Seberapa kotor rupanya kini, teh mana peduli. Apakah rekanku masih sudi untuk meneguk rindunya? Lagi-lagi ia tak peduli. Kita bicara begini seolah teh dingin dapat mendengar, padahal ia tuli. Seolah berhak untuk mengatakan, bahwa ia semestinya beranjak pergi, padahal teh tak memiliki kaki. Diam tanpa suara. Meski benar, namun bukan karena teh merupakan benda yang maha bisu lagi tak punya mulut. Teh sama sepertiku, ogah menjadi berisik, sebab rekanku pasti paham resahnya. Sebab rekanku adalah manusia yang fasih melafalkan sepi, dan mengimani kesendirian di bawah alam sadarnya.

Hari ini, aku menemukan rekanku membuang isi cangkir ke wastafel. Sesal merutuki langkah lelaki mendung itu. Teh kemarin pagi, mana mungkin bisa diminum. Banyak mayat semut mengapung putus asa di atasnya. Lalu rekanku harus berbuat apa? Selain membiarkan cairan itu tumpah di saluran pembuangan. Mengalir tanpa tahu akan bermuara kemana. Meski kata Ibu, air selalu sampai ke samudra. Tetap saja rekanku bermuram durja.

Pagi-pagi sekali, ia telah sibuk membasuh cangkir, satu-satunya yang bujangan itu punya dirumah. Kini rekanku tengah pening, karena noda kecoklatan tak sudi beranjak dari dasarnya. Teh kemarin pagi terlalu lama dibiarkan sendiri. Meski sulit, kini cangkir sudah putih kembali. Telungkup pada rak piring, menunggu rekanku menjumpai pagi berikutnya untuk menyeduh secangkir teh yang baru. Kini harapanku, semoga semestanya tak lagi sejauh dulu. Setidaknya, agar tak ada teh lain yang terbuang ke samudra, agar tak lagi kutemukan dirinya gelagapan di tengah pesta.

Kisah ini bukan tentang kelalaian rekanku. Namun secangkir teh yang disemuti kemarin pagi, dibuang setengah hati, lalu terlupakan seperti puisi-puisi sebelum ini.

Iklan

2 thoughts on “Teh Kemarin Pagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: