Dunia si Bocah Dirman: Dirman (Bagian 1)

Berlari seorang bocah lelaki tanpa alas kaki, tersengal-sengal ia akhirnya berhenti di depan teras rumahku. Luka pada sudut bibir, jejak air mata di pipi, serta kaus yang  robek lengannya. Pelat, terbata-bata, sambil mencoba menyusun kata. Terisak, dia bilang ibunya pingsan di rumah.

Tengah hari yang sepoi-sepoi anginnya. Ketika Dirman, nama bocah itu, datang, aku tengah menjahit kebayaku sendiri. Kebaya yang belum sempat kuselesaikan sejak minggu lalu, dan mungkin tak dapat diselesaikan pula minggu ini. Tergopoh-gopoh, aku dan suamiku berlari ke rumah Dirman.

Dirman anak tetanggaku. 5 tahun 6 bulan usianya. Sudah pandai berhitung dalam bahasa Inggris  sampai 10, menulis dengan huruf tak beraturan, dan membaca meski masih mengeja. Hampir setiap hari bocah itu mampir ke rumah. Aku dan suamiku, tak pernah keberatan. Mengingat kedua buah hati kami pun sudah besar-besar dan kini tinggal di rantauan.

Kehadiran Dirman sedikit banyak menghibur sepi. Seperti ketika Mas Junaidi, suamiku, sedang berada di tempat kerjanya. Bocah itu akan datang ke rumah, menemaniku sambil duduk manis di depan televisi ruang keluarga. Tak meminta apa-apa, kecuali ijin untuk menurunkan beberapa buku dongeng di rak. Kadang tidak ia baca, melainkan hanya dibolak-balik untuk melihat gambar-gambar di dalamnya.

Ketika Jum’at, Mas Junaidi akan pulang lebih cepat untuk pergi sholat. Setelah mandi dan bersiap dengan baju kokonya, ia akan mengajak Dirman ke masjid bersama. Suatu hari, aku ingat ketika Mas Junaidi pulang dari masjid sambil menggendong Dirman yang tertidur pulas. Bocah itu baru bangun saat petang, tepat ketika ibunya datang untuk menjemput sepulang kerja.

Bicara soal ibu Dirman, Siti Aminah. Kau tentu tak akan percaya tentang apa yang ada di hadapanku sekarang. Perempuan itu terbujur kaku dengan buih keluar dari mulutnya. Sekujur tubuh wanita berusia 25 tahun itu lebam, di samping tangannya tergeletak racun serangga. Tak ada nafas, tak ada nyawa, tak ada keluarga yang ditinggalkan, kecuali Dirman si bocah malang.

Malam itu jenazah Siti Aminah dimakamkan. Aku menawarkan diri kepada tetangga, agar Dirman kurawat saja. Sementara itu, Pak RT dan Mas Junaidi tengah berunding dengan bapak-bapak lain di teras rumah. Semua orang kebingungan. Entah disebabkan oleh asal-usul Almarhumah yang kurang jelas, atau tentang nasib si bocah Dirman.

Siti Aminah datang ke sini tujuh tahun lalu seorang diri. Beredar kabar, beberapa bulan setelah itu dia kawin siri dengan seorang pria dari kota. Alasan kenapa pernikahannya tak pernah diresmikan di catatan sipil, sebab sang lelaki ternyata telah beristri. Entahlah, Siti Aminah dan kehidupannya adalah misteri. Orang-orang kampung pun segan untuk bertanya, malah menetapkan sepihak, bahwa kabar-kabar itu benar adanya.

Masih dalam pelukanku, Dirman menangis sesenggukan. Sesekali ia memanggil-manggil ibunya yang telah sampai di liang lahat. Tak ada satu suap nasi yang masuk ke perut bocah itu sejak tadi. Aku tak sampai hati melihat pilu di matanya. Tentu kehilangan merupakan beban berat bagi siapapun, bahkan untuk diriku sendiri, apalagi Dirman.

Setelah peristiwa itu, Dirman semakin sering termenung. Meski televisi menyala, dan kedua bola matanya seolah memperhatikan gerak gambar pada layar, namun sungguh, dapat kupastikan jiwa kecilnya melayang entah kemana. Memang, pada hari biasa sekalipun, Dirman adalah tipikal anak pendiam dan jarang bersuara. Hanya saja, diamnya kali ini menyimpan terauma, meninggalkan cerita tak terungkap, menjejakkan misteri, serta luka pada sudut bibirnya.

Selain menangis diam-diam di atas jaitan kebaya yang tak kunjung diselesaikan, aku tidak melakukan usaha apapun untuk menanyainya. Mas Junaidi sesekali mengajak Dirman bicara, memang bukan tentang apa-apa yang terjadi pada Siti Aminah. Melainkan hal-hal ringan, namun hanya anggukan atau gelengan kepala yang suamiku terima sebagai jawaban. Lebih dari itu, Dirman diam seribu bahasa.

Dirman tidur di kamar Beno, putera sulungku. Saat kami menghantarnya tidur di depan pintu, aku merasa dunia mendadak jadi arena yang terlalu pilu untuk bocah lelaki itu. Lalu, malam-malam setelahnya akan selalu terasa beku, sebab dingin membisukan Dirman dan dunianya.

***

Terima kasih telah membaca tulisan ini.

Dunia si Bocah Dirman: Dirman, adalah bagian pertama dari rangkaian cerita bersambung, Dunia si Bocah Dirman, yang akan diterbitkan pada setiap hari Kamis di uganyvia.com. Selamat menanti, semoga dapat menikmati dengan sepenuh hati.

Salam,

Uganyvia Sabrina

Iklan

4 thoughts on “Dunia si Bocah Dirman: Dirman (Bagian 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: