Dunia si Bocah Dirman: Sabariah (Bagian 2)

Gerimis di luar, namun langit senja tetap cerah. Tak ada gemuruh, apalagi awan mendung. Mesin jahitku beradu suara dengan lagu-lagu The Beatles yang diputar Mas Junaidi. Dia, ditemani Driman tengah menikmati teh hijau, kiriman dari salah seorang kerabat di Jepang.

Sejak kemarin, aku telah banyak menceritakan keluh kesahku padamu. Rasanya seperti berkisah pada sahabat karib. Padahal mengetahui namaku pun, engkau belum. Maafkan aku si manusia nan tak tahu adat ini. Terlambat memang, namun daripada tidak sama sekali, maka ijinkan aku memperkenalkan diri. Namaku Sabariah, terinspirasi dari nama kakek sebelah Ayah, Sabari Hassanudin.

Semenjak kejadian tempo hari, Dirman tinggal di rumah kami. Bocah itu memang tak banyak mengeluarkan suara. Mas Junaidi lebih sering berhasil dalam membuka pembicaraan dengannya dibanding aku. Seperti sore ini, dua lelaki itu tengah membahas entah apa di sana. Dirman mendengar cerita suamiku dengan takzim. Matanya hampir tak berkedip, menyiratkan kesenduan serta keagungan yang dalam. Untuk anak seusianya, tentu karisma semacam itu adalah hal tak biasa. Kau boleh percaya atau tidak, namun Dirman memang berbeda dari mereka, anak-anak pada umumnya. Seolah ia memahami, apa-apa yang tidak sepatutnya dipahami. Mengetahui, apa-apa yang semestinya tak diketahui.

Senja berlalu lamban, namun Dirman dan kebisuannya tumbuh terlalu cepat. Bulan depan bocah itu sudah harus masuk sekolah dasar, seperti anak-anak lain di kampung ini. Hal itulah yang menyebabkan Pak RT mampir ke rumah kami selepas maghrib. Beliau sangat memahami keinginanku dan Mas Junaidi untuk mengangkat Dirman sebagai anak. Hanya saja, menurut Pak RT akan lebih baik jika Dirman dirawat oleh keluarga sebenarnya. Namun, siapa pula yang tahu asal muasal Almarhumah Siti Aminah. Toh semasa hidup pun, perempuan itu tak pernah bercerita apapun tentang kisahnya.

Perundingan panjang tentang nasib Dirman berakhir tak jauh berbeda dari yang sebelumnya. Selagi mencari keberadaan keluarga Almarhumah Siti Aminah, Dirman adalah tanggungjawab kami. Termasuk memberikannya pakan, pakaian, pendidikan, rumah tinggal, serta kasih sayang. Tentu kami tak akan keberatan. Namun, jika keluarga Siti Aminah datang, dan bersedia merawatnya. Terpaksa dengan berat hati, aku akan merelakan Dirman bersama mereka. Dirman sudah seperti darah dagingku sendiri, seolah kami memiliki koneksi, bahkan jauh sebelum semua peristiwa ini terjadi. Aku yakin Mas Junaidi juga merasakan hal yang sama, hanya saja ia lebih pandai menyembunyikannya.

Pukul sembilan, kata jam di dinding dingin ruang tamu. Segera setelah Pak RT pamit pulang, aku bergegas ke kamar Beno, yang kini ditempati Dirman. Aku mendapati bocah itu tengah tertidur lelap di balik selimut hangat. Seperti malam-malam kemarin, aku berdiri kaku di depan pintu. Mendengar deru nafasnya, membuat lidahku kelu. Setengah mati kutahan-tahan agar tangisku tak pecah,seketika badan tua ini bergetar. Kurasakan telapak tangan Mas Junaidi memeluk pundak, seketika benteng pertahananku rubuh. Kubalas pelukan suamiku erat-erat, luruh sudah segala macam emosi malam itu. Mas Junaidi tak mengatakan apapun untuk membalas isakanku, melainkan hanya elusan pelan pada rambut ubanan yang bentuknya sudah tak karuan.

Entah bagaimana cara esok hari akan menyapa rumah ini. Biarlah tetap menjadi misteri, seperti Dirman dan tidurnya yang damai.

***

Terima kasih telah mampir dan membaca tulisan ini.

Dunia si Bocah Dirman: Sabariah adalah bagian kedua dari rangkaian cerita bersambung, Dunia si Bocah Dirman, yang terbit setiap hari kamis di uganyvia.com. Selamat menanti kisah selanjutnya. Semoga dapat menikmati dengan sepenuh hati.

Salam,

Uganyvia Sabrina

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: