Writer’s Block

Bising suara musik pengiring barongsai membuat Senin siang kali ini terasa lebih ramai. Alih-alih  terganggu, aku malah menikmati hingar-bingar tersebut dengan sepenuh hati. Flu berat akibat keletihan setelah liburan singkat kemarin mengharuskanku berkutat dengan sejumlah obat, selimut serta teh manis hangat. Terlepas dari pening yang semena-mena mengelilingi kepalaku sejak pagi, aku mulai menyadari bahwa aku hampir lupa rasanya bersantai seperti ini. Mereka bilang Uganyvia terlalu kaku sehingga tak pernah benar-benar menikmati masa mudanya sendiri.

Berbulan-bulan terjebak dalam writer’s block, membuat tulisan-tulisanku belakangan ini terasa ‘kosong’. Tiap kali berusaha mendesak akal, hati dan pikiran untuk bekerja lebih keras, aku malah mendapati diriku menangis di depan kertas berisi kalimat-kalimat penuh coretan. Dulu otakku akan dengan mudah mencari inspirasi, lalu menerjemahkan inspirasi tersebut ke dalam tulisan yang biasa kupajang di sebuah blog pribadi. Namun, bukannya menciptakan kata-kata indah, aku malah menemui jalan buntu. Inspirasiku seolah beku membatu.

Sudah lama aku berhenti merokok dan mulai mengurangi kopi. Meski begitu, aku tak merasa bahwa hal-hal tersebut adalah alasan dibalik tulisanku yang mati. “Mungkin kamu patah hati,” ujar seorang teman ketika aku bercerita tentang situasi belakangan ini. Lama aku mencerna kata-katanya, sembari mengkilas balik keadaanku beberapa bulan terakhir. Iyapun benar, seharusnya patah hati menjadikanku semakin produktif dalam menulis. Tulisanku sarat akan kehilangan dan penderitaan. Maka dari itu patah hati lebih tepat disebut teman baik ketimbang penghambat kretivitas dan pembunuh inspirasi.

“Lantas kenapa?” Pertanyaan yang sering aku ajukan kepada diriku, tepatnya bayanganku, di cermin. Hari-hari biasa tanpa antibiotik, obat batuk serta pesan dokter agar aku mendapat istirahat cukup, memang selalu habis untuk hal-hal seperti ini.

***

Bagiku cermin adalah pelarian, ukulele soprano putih bernama “Kencrung” adalah pelarian, caffeine adalah pelarian, The Beatles adalah pelarian, novel Brasil yang diterjemahkan ke dalam bahasa inggris berjudul Anguish adalah pelarian. Seperti merokok, menulis sempat menjadi pelarian untukku, hingga tak ada satu kata pun yang dapat kularikan dari kepala yang rasanya mau pecah ini. Berbeda ketika aku memilih untuk berhenti merokok dalam keadaan sadar. Sebaliknya, ketidak mampuanku untuk kembali menulis seolah berada di luar kendali.

Suatu hari, aku dan pantulanku di cermin tengah berdiskusi, tepatnya saling melemparkan pertanyaan yang sama-sama tak mampu kami jawab. Lelah. Aku diam. Pantulan di cermin diam. Daun di luar diam. Semuanya diam. Diam yang heningnya menggenang. Aku kembali memperhatikan cermin, dahiku lebar, alisku tak pernah absen dirapihkan, pipiku dipenuhi bekas butterfly rash. Sunyi hari itu, adalah sunyi paling lama dalam hidupku. Meski diam seribu bahasa, aku merasa pantulanku di cermin berkata, “aku jenuh,” lewat sorot matanya.

Mungkin itu masalahnya. Aku terpaku untuk terus-menerus menulis tentang keresahan, hingga pikiranku keruh oleh cerita-cerita dan perasaan-perasaan memuakkan semacam itu. Menghabiskan hampir 3/4 waktuku dengan meratapi nasib dan mencari kepedihan untuk ditulis, demi entah siapa, entah karena apa.

Semakin hari, aku makin percaya bahwa Uganyvia telah menjelma menjadi manusia paling membosankan di dunia. Sebelum ini, aku begitu membangga-banggakan idealisme dan prinsip yang kupegang teguh. Terlena pada ilusi bahwa aku akan lebih ‘aman’ bersama aura serius yang kubangun di sekitarku. Padahal kenyataannya, dengan atau tanpa hal-hal tersebut, aku masih bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Akhirnya, situasi semacam itu malah membuatku menahan diri dari hal-hal yang sebenarnya lumrah untuk dirasakan oleh orang-orang sebayaku. Lihat saja tulisan-tulisan cengeng itu, bukti sahih ketidak mampuanku untuk maju dan berkembang, atau setidaknya mencoba keluar dari zona nyamanku sendiri.

***

Jawaban dari pertanyaanku selama ini memang bukan patah hati, bukan pula karena tak mampu menulis lagi. Aku hanya baru melewati sebuah fase kehidupan. Maka seperti orang-orang naif yang pernah terjebak di fase yang sama, aku pun butuh waktu lama untuk sadar dan keluar dari sana.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: