Teh Kemarin Pagi

Kemarin pagi, teh yang diseduh oleh rekanku dengan tangannya sendiri, dikerubungi semut. Sebab dirinya terlalu asik dengan hal-hal dari semesta yang berbeda. Rekanku lupa, sampai-sampai tehnya terbiar dingin di atas meja. Teh itu tak pernah beriak apalagi berteriak, melainkan diam dalam ruangan yang asing baginya. Memperhatikan rekanku dari jauh, sampai jarak tak berani mengeluh. Iklan

Bidadari Penghuni Surga

Ketika yang terkenang dalam langkahku pagi ini adalah senyummu. Dengan anggun, ridhomu menyertai setiap nafasku. Ada tangis yang terselip dari setiap amarah beradu pada kekecewaan yang sebisa mungkin kau sembunyikan. Aku meringkuk takut pada malam tanpa pelita. Lalu genggam hangatmu merangkul bahuku dalam cinta. Yang kupersembahkan sedikit suka cita dan banyak menjebakmu dalam luka. Belum […]