Tak Punya Definisi

Musik mengalun dari ruangan miskin cahaya malam itu. Mataku tertuju padamu kala sepasang milikmupun mencari jalan ke arahku. Seperti kebiasaan kita dulu, bertemu malu-malu lalu mempersilahkan udara menghantarkan rindu yang tak pernah sampai di atas hati masing-masing. Tanpa kau sadari, mungkin, ada cerita yang menolak selesai, membiarkan sepasang rasa merangkai perjalanannya dalam waktu senggang. Baca lebih lanjut

Iklan

Bocah Sentoloyo

Dari siang sampai malam kita tak ada makan, yang di sana kerja please makan kita di sini sengsara.

Tebak, siapa dalang dari status absurd di atas? Ini bukan tentang kicauan warung kopi yang senantiasa mengkritisi pemerintah. Mungkin saja sang empunya status tak peduli dengan lontaran harga yang sedang tarik ulur di pasar. Ia hanya bocah melayu, belum genap 13 tahun, orang tuanya tengah banting tulang di negeri jiran demi tutupi hutang.

Baca lebih lanjut

Aldebaran dan Langit Malam yang ditinggalkan

Sore ini jalanan kota basah, sisa-sisa hujan yang baru reda pukul dua tadi. Kedai kopi selalu menjadi cikal bakal kemunculan ingatan-ingatan tentang harapan yang tertunda, entah kapan dikabulkan. Lalu sepoci teh aroma mawar di hadapanku, pertanda bahwa hidup sudah terlalu pahit untuk menikmati kopi. Barista di ujung meja barnya hanya menatapku sendu dari kejauhan. Prihatin? Mungkin.

Kota yang basah, suara air menetes dari atap genteng, bayangan manusia lalu lalang di luar jendela. Momen-momen itu membawa aku kembali pada senja bersahaja. Senja dimana penyangkalan-penyangkalan soal rasa, mulai tumbuh di antara kita, dua insan yang biasa-biasa saja. Biasa saja, dan menolak jatuh cinta. Buta memang ketika perasaan itu muncul dari percakapan ngalor ngidul serta sebatang wafer yang ku bagi padamu kala lapangan sama basahnya dengan jalan kota sore ini. Bodoh memang ketika kehadirannya, perasaan, kerap kusangkal-sangkal saat dirimu tak kunjung datang di layar ponselku. Gila memang ketika kita hanya mampu mengagumi mata yang bertemu mata dari jauh.

Baca lebih lanjut

Bidadari Penghuni Surga

Selamat hari ibu! ♡

Ketika yang terkenang dalam langkahku pagi ini adalah senyummu. Dengan anggun, ridhomu menyertai setiap nafasku.

Ada tangis yang terselip dari setiap amarah beradu pada kekecewaan yang sebisa mungkin kau sembunyikan.

Aku meringkuk takut pada malam tanpa pelita. Lalu genggam hangatmu merangkul bahuku dalam cinta. Yang kupersembahkan sedikit suka cita dan banyak menjebakmu dalam luka. Belum pantas tangan-tangan ini merasa bangga, belum sebanding jika mulut ini menyatakan bahagia.

Aku hanya segumpal daging bernyawa, terlahir dari rahim seorang bidadari penghuni surga. Pengahantar bahagia, dalam sakit yang menyerang semena-mena. Kumohon maaf akan setiap salah yang terlanjur ada. Terimakasih, atas pengorbanan yang telah tercurahkan. Terimakasih untuk selalu kekal dalam ingatan ♡

(memperingati hari ibu) from my tumblr

Atlantis

Atlantis, Atalantis, atau Atlantika (bahasa Yunani: Ἀτλαντὶς νῆσος, “pulau Atlas”) adalah pulau legendaris yang pertama kali disebut oleh Plato dalam buku Timaeus dan Critias.

Dalam catatannya, Plato menulis bahwa Atlantis terhampar “di seberang pilar-pilar Herkules“, dan memiliki angkatan laut yang menaklukkan Eropa Barat dan Afrika 9.000 tahun sebelum waktu Solon, atau sekitar tahun 9500 SM. Setelah gagal menyerang Yunani, Atlantis tenggelam ke dalam samudra “hanya dalam waktu satu hari satu malam”.

Baca lebih lanjut